MEMBANGUN FIKRAH ANAK USIA DINI

💎 Fikrah adalah ide atau pemikiran tentang fakta dan keputusan terhadap fakta tersebut. Pertama Fikrah itu terkait tentang keberadaan fakta, misal keberadaan apel, keberadaan diri manusia di dunia, apakah ada kehidupan sebelum dunia, apa-apa yang ada sebelum kehidupan dunia adakah pencipta ataukah tidak dan seterusnya tentang wujud, keberadaan, eksistensi.
📈 Dalam dataran ini bunda menstimulasi berpikir ananda tentang keberadaan, alam, manusia dan kehidupan sehingga anak merasakan bahwa dirinya ada, dan merasakan alam semesta tempat dia hidup.
📈 Ketika anak sudah bisa mengidentifikasi suatu benda atau suatu perkara, maka anak akan bertanya-tanya apakah sebelum dirinya, sebelum ayah bundanya, sebelum nenek kakeknya dan sebelum nenek moyangnya, apakah sebelum itu ada sesuatu ataukah tidak? Sehingga mengantarkan posisi semua itu ada penciptanya Al-Khaliq.
🔑 Obyek yang bisa dipikirkan oleh anak adalah yang dapat diindera dan pengaruh/ atsar/ effect dari segala sesuatu yang dapat diindera pada alam, manusia dan kehidupan. Karenanya kita ada materi posisiku di bumi dalam pelajaran geografi, atau siapa aku siapa Penciptaku dalam pelajaran sains tantang anggota tubuh atau rangka tubuh manusia dan pelajaran realitas pencipta dalam pelajaran aqidah juga ada tarikh kisah Nabi Adam.
🔑 Juga menstimulasi bahwa alam, manusia dan kehidupan itu tidaklah abadi, semua akan kembali kepada sang Khaliq. Maka kenapa ada silabus daur kehidupan manusia dalam pelajaran sains mulai dari dalam kandungan, bayi, anak-anak, dewasa, tua dan berakhir dengan kematian, agar anak dapat merasakan bahwa segala yang diciptakan akan berakhir.
🔑 Walau proses ini sebenarnya alamiyah dan pasti ada pada diri setiap anak. Namun pemikiran tersebut terkadang benar dan terkadang salah dan terkadang lari dari pemikiran itu sendiri. Maka tugas kitalah meluruskannya dan memberikan stimulasi berpikir benar sehingga fikrah ini mengantarkan anak untuk memiliki aqidah Islam dan dijadikan landasan dalam proses berpikir ananda.
💐 Fikrah dalam rangka menyelesaikan fakta, misal kita mengatakan bahwa, roti ini mengandung zat babi maka roti ini haram, minum dan makan sambil berdiri dilarang, masuk kamar orang tua dalam 3 waktu aurat tidak boleh, mencuri haram, memukul adik tidak boleh, makan apel boleh, makan daging sapi boleh, berjilbab wajib, shalat lima waktu wajib, puasa senin kamis sunnah, qiyamullail sunnah, tilawah quran sunnah dsb.
💐 Maka kenapa dalam stimulasi kita memberikan pelajaran adab di setiap kesempatan, kenapa kita berikan pelajaran fiqh, berikut dalil terhadap realitas yang dihadapi ananda untuk dinilai halal haramnya? Semua itu demi mewujudkan fikrah bagaimana ananda dapat menyelami bahwa hidup itu membutuhkan aturan, Allah Mudabbir.
💐 Inilah stimulasi berpikir yang hendak kita jalani bersama ananda, dalam rangka mewujudkan fikrah dalam stimulasi berpikirnya dan menancapkan landasan aqidah sebagai salah satu pembangun dari kepribadian Islam ananda.
===
📝 Ketika anak belum mau bangun subuh dan sulit bangun, sang ibu dengan lembut membangunkan dan membisikkan di telinga anak, “Bangunlah nak, sudah azan subuh, alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatana wa ilaihinnusyur.”Sang ibu terus membngunkan dengan menyentuh fithrohnya sebagai hamba hingga terbangun dan menuntunnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kebiasaan tersebut terus berulang hingga ada masanya ananda bangun subuh sendiri tanpa dibangunkan.
📝 Ketika ananda tergoda menonton TV dengan tayangan yang tidak bermanfaat, bunda mencoba melarangnya, “Jangan notonton tayangan itu ya nak, karena bisa merusak jiwa dan otak, membuat adik lupa sama Allah, membuat adik malas beribadah dan malas membaca alquran, ganti channel ya yang lebih bermanfaat ya, bunda sayang adik, merasa rugi bila waktu adik terbuang percuma” Saat itu juga sang anak justru mematikan TV, karena tak ada tayangan yang bagus.
📝 Ketika anak menyaksikan ibunya shalat tahajjud lalu berdoa sambil menangis, anak bertanya kenapa bunda menangis? “Bunda takut sama api neraka nak karena banyaknya dosa, bunda bermohon pada Allah agar kelak di masukkan ke surga yang penuh kesenangan dan kebahagiaan. Bunda melakukan shalat wajib juga shalat tahajjud demi berharap dirindukan surga, kita harus taat pada Allah”
📈 Bunda mencoba menyentuh fithroh ananda sambil memeluknya erat. Tak lama kemudian esok harinya, anandapun meminta kepada bundanya, “Bunda besok bangunkan ananda shalat tahajjud, ananda mau masuk surga bersama bunda”
📈 Itu adalah sekelumit kisah menstimulasi berpikir dan naluriyyah anak usia dini. Anak terlahir di atas fitrah yang suci, bersih tak ternoda. Orang tualah yang membuat fitrahnya ternoda, sebagaimana hadist: “Tidaklah seorang anak lahir kecuali dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nasrani atau majusi”
🍃 Fitrah anak itu adalah Islam, Allah berikan dalam kelurusannya dan dalam kemudahannya dapat menerima sentuhan aqidah islam dalam pendidikan. Maka tugas kita orang tua adalah menjaga fitrah anak kita tetap dalam kebersihan dan kesuciannya.
🍃 Maka disinilah kita bisa memahami konsep stimulasi dini pembentukan kepribadian islam anak. Artinya orang tua dalam mendidik harus bisa menstimulasi fitrah ini agar anak taat pada Allah dengan kesadaran dan tuntunan wahyu.
🍃 Konsep mendidik dengan fitrah membutuhkan pengungkapan bahasa aqidah untuk menyetel pemikiran ananda agar senantiasa di atas landasan aqidah. Membutuhkan kekayaan bahasa ibu dan kecerdasan ibu mencelupkan keimanan pada jiwanya.
🍃 Seringkali kesulitan dalam mendidik anak disebabkan kita kita mendidik keluar dari fitrah anak, sehingga anak keras dan bandel. Atau kita biarkan dia dirusak fitrahnya oleh yang lain. Bila ibu dalam berbicara dan berbahasa menodai fitrah anak, besar kemungkinan anak sulit dikendalikan dan menjadi anak pembantah dan pelawan, karena ibu kering dari sentuhan fitrah dalam mendidik.
🍃 Jagalah fitrah anak kita dengan baik, dengan demikian kita dapatkan ananda kelak sebagai sosok muslim sejati yang senantiasa menghadapkan wajahnya pada agama fitrah yang lurus (Islam). Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Arrum: 30)
🍃 Mengingat Allah menciptakan manusia di atas fitrah yang lurus, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk percaya diri bahwa Allah akan membimbing kita  dan anak-anak kita selalu bersama dalam fitrah yang sama dan tidak pernah terpisah pisah, selalu dalam pemikiran Islam yang sama dan dalam ketaatan yang sama hingga kelak di yaumul akhir.
“Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah” TQS ar-Rum: 43.
Wallaahu a’lam bishshawab
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top